Apa itu model pembelajaran Jigsaw?

Model Pembelajaran Jigsaw adalah suatu metode pembelajaran kooperatif di mana siswa terorganisir ke dalam kelompok belajar kecil dan saling bertanggung jawab untuk mempelajari materi pembelajaran yang kompleks. Konsep utama dari model ini adalah bahwa setiap siswa memiliki tanggung jawab untuk menjadi ahli dalam subkelompok tertentu dan nantinya akan berbagi hasil belajarnya dengan anggota kelompok lainnya.

model pembelajara jigsaw
model pembelajara jigsaw (karyatulisku.com)

Pengenalan tentang Model Pembelajaran Jigsaw

Model Pembelajaran Jigsaw dikembangkan pada tahun 1971 oleh seorang psikolog sosial bernama Elliot Aronson untuk mengatasi masalah diskriminasi sosial dan meningkatkan kerjasama antar kelompok dalam konteks kelas. Model ini sejak itu telah banyak diterapkan di berbagai tingkat pendidikan dan berbagai jenis mata pelajaran.

Sejarah dan tujuan Model Pembelajaran Jigsaw

Tujuan dari Model Pembelajaran Jigsaw adalah untuk mendorong siswa untuk bekerja sama, bertanggung jawab, dan membuat mereka merasa penting dalam proses pembelajaran. Dengan melibatkan siswa dalam proses pembelajaran, model ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang inklusif di mana setiap siswa memiliki peran aktif dalam menciptakan pengetahuan.

Prinsip-prinsip Model Pembelajaran Jigsaw

Ada beberapa prinsip utama yang mendasari Model Pembelajaran Jigsaw:

  1. Ketergantungan positif: Setiap anggota kelompok memiliki peran yang penting dalam menciptakan pengetahuan dan belajar secara bersama-sama.
  2. Tanggung jawab individual: Setiap siswa bertanggung jawab untuk menjadi ahli dan memahami materi yang diberikan.
  3. Pemberian umpan balik positif: Siswa saling memberikan dukungan dan umpan balik yang positif satu sama lain.
  4. Interaksi kelompok yang positif: Siswa diajarkan untuk berinteraksi dengan kelompok lainnya secara kooperatif dan saling menghormati.
  5. Keakraban: Model ini menciptakan lingkungan di mana siswa dapat terlibat dalam diskusi dan belajar secara aktif dengan teman sekelompoknya.

Tahapan dalam Model Pembelajaran Jigsaw

Model Pembelajaran Jigsaw terdiri dari beberapa tahapan yang harus dilewati oleh siswa:

Pembentukan kelompok belajar

Pada tahap ini, siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari anggota dengan peran dan tugas yang berbeda.

Penugasan ahli subkelompok

Setiap anggota kelompok belajar diberikan penugasan terkait dengan materi yang akan dipelajari. Masing-masing siswa akan menjadi ahli dalam subkelompok tertentu.

Ahli subkelompok bertemu dan berdiskusi

Setelah menjadi ahli dalam subkelompoknya, setiap anggota kelompok belajar akan bertemu dengan ahli subkelompok lainnya yang memiliki pengetahuan yang sama dengan mereka. Mereka akan berdiskusi dan saling bertukar informasi.

Presentasi ahli jigsaw

Setelah berdiskusi dengan anggota subkelompok lainnya, setiap anggota kelompok belajar akan kembali ke kelompok asal dan mempresentasikan informasi yang telah mereka pelajari.

Evaluasi individual dan kelompok

Setelah presentasi, siswa akan mengevaluasi pemahaman mereka sendiri dan juga kelompok belajar mereka terkait dengan materi yang dipelajari. Hal ini membantu mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dari proses pembelajaran.

Keunggulan dan manfaat Model Pembelajaran Jigsaw

model pembelajaran jigsaw
model pembelajaran jigsaw (Fatkhan.web.id)

Model Pembelajaran Jigsaw memiliki beberapa keunggulan dan manfaat yang membuatnya menjadi pilihan ideal dalam konteks pembelajaran:

Meningkatkan kerja sama dan komunikasi

Dalam Model Pembelajaran Jigsaw, siswa perlu bekerja sama dalam kelompok belajar dan bertukar pendapat. Hal ini memperkuat kemampuan mereka dalam berkomunikasi dan meningkatkan keterampilan kerja sama.

Mendorong partisipasi aktif

Setiap siswa memiliki peran yang aktif dalam proses pembelajaran. Mereka tidak hanya mendengarkan, tetapi juga terlibat dalam diskusi dan presentasi. Hal ini mendorong partisipasi aktif dan meningkatkan pemahaman mereka.

Membantu memahami perspektif yang berbeda

Dengan adanya diskusi antara siswa dari subkelompok yang berbeda, Model Pembelajaran Jigsaw membantu siswa untuk memahami perspektif yang berbeda tentang suatu topik. Ini juga membuka kesempatan untuk belajar dari pengalaman dan pengetahuan teman sekelompok.

Mengembangkan pembelajaran mandiri

Seiring dengan tanggung jawab individual dalam menjadi ahli pada suatu topik, Model Pembelajaran Jigsaw juga mengembangkan pembelajaran mandiri. Siswa merasakan kepuasan dalam menjadi ahli dan memahami materi secara lebih mendalam.

Memperbaiki pemahaman dan retensi materi

Melalui diskusi, presentasi, dan evaluasi, siswa secara aktif terlibat dalam mempelajari materi. Ini membantu meningkatkan pemahaman dan retensi materi yang mereka pelajari.

Tantangan dalam menerapkan Model Pembelajaran Jigsaw

Meskipun banyak manfaat yang didapatkan dari Model Pembelajaran Jigsaw, ada beberapa tantangan yang perlu diatasi dalam penerapannya:

Meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri

Tidak semua siswa mungkin merasa percaya diri untuk berbicara di depan kelompok besar atau presentasi. Meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri siswa merupakan tantangan utama.

Mengelola waktu efektif

Model Pembelajaran Jigsaw memiliki tahapan yang harus dikendalikan oleh guru. Mengelola waktu sehingga semua tahapan dapat dilakukan secara efektif dapat menjadi tantangan, terutama jika ada banyak kelompok belajar.

Pengaturan ruang belajar yang sesuai

Model ini memerlukan ruang belajar yang sesuai yang memungkinkan siswa berdiskusi dan berinteraksi dengan kelompok mereka. Tantangan dapat muncul jika ruang belajar terbatas atau tidak memadai.

Menjaga keseimbangan antara kerjasama dan kompetisi

Meskipun kerjasama adalah prinsip utama Model Pembelajaran Jigsaw, menjaga keseimbangan antara kerjasama dan kompetisi dapat menjadi tantangan. Beberapa siswa mungkin secara alami lebih kompetitif daripada kooperatif.

Studi kasus tentang penerapan Model Pembelajaran Jigsaw

Ada banyak studi kasus tentang penerapan Model Pembelajaran Jigsaw yang berhasil. Salah satu contohnya adalah penelitian yang dilakukan di sebuah sekolah menengah di Yogyakarta. Peneliti menemukan bahwa siswa yang terlibat dalam Model Pembelajaran Jigsaw memiliki pemahaman yang lebih baik dan keterampilan kerja sama yang lebih tinggi dibandingkan dengan metode pembelajaran konvensional.

Kesimpulan

Model Pembelajaran Jigsaw adalah metode pembelajaran kooperatif yang melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. Model ini mendorong kerja sama, komunikasi, dan partisipasi aktif siswa dalam menciptakan pengetahuan. Meskipun ada beberapa tantangan dalam menerapkannya, Model Pembelajaran Jigsaw telah terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa dan keterampilan kerja sama.


5 Pertanyaan Yang Sering Diajukan

Apakah Model Pembelajaran Jigsaw dapat diterapkan di semua tingkat pendidikan?

Ya, Model Pembelajaran Jigsaw dapat diterapkan di semua tingkat pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi.

Apakah setiap anggota kelompok belajar memiliki peran yang berbeda dalam Model Pembelajaran Jigsaw?

Ya, setiap anggota kelompok belajar memiliki peran yang berbeda dalam Model Pembelajaran Jigsaw, yaitu menjadi ahli dalam subkelompok tertentu.

Mengapa Model Pembelajaran Jigsaw menghasilkan pemahaman yang lebih baik dibandingkan dengan metode pembelajaran konvensional?

Model Pembelajaran Jigsaw menghasilkan pemahaman yang lebih baik karena setiap siswa bertanggung jawab untuk menjadi ahli dalam suatu subkelompok dan nantinya akan berbagi informasi dengan kelompok lain, sehingga siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran.

Apakah Model Pembelajaran Jigsaw hanya efektif dalam mata pelajaran tertentu?

Tidak, Model Pembelajaran Jigsaw dapat diterapkan dalam berbagai jenis mata pelajaran. Prinsip-prinsipnya dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan pembelajaran.

Bagaimana guru dapat mengatasi tantangan motivasi dan kepercayaan diri dalam penerapan Model Pembelajaran Jigsaw?

Guru dapat menciptakan lingkungan yang mendukung dan membangun kepercayaan diri siswa melalui pemberian umpan balik positif, dukungan, dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi dalam proses pembelajaran.

Tinggalkan komentar